Peran Guru dalam P4GN

Konon, setelah mengalami kekalahan dalam Perang Dunia ke II Jepang mengalami kehancuran di segala bidang. Banyak asset dan Sumber dayanya porak poranda. Hal ini makin ditambah oleh banyaknya orang yang melakukan “Harakiri” (bunuh diri) karena malu. Tentu saja kekalahan itu sangat memalukan bagi mereka. Pemerintah Jepang harus melakukan inventarisasi terhadap aset dan sumber daya yang mereka miliki untuk memulihkan kondisi dari kehancuran itu.

Namun apa yang dipikirkan oleh Hirohito (1901-1989), Kaisar Jepang saat itu sangat mulia. Beliau hanya memikirkan “Berapa guru yang masih kita miliki?” Hebat, demikianlah cara berpikir seorang negarawan. Kekurangan sumberdaya manusia hanya bisa dipenuhi oleh para guru. Tanpa guru – masyarakat dan seluruh tatanan kemasyarakatan akan hancur-lebur.

Dengan bermodalkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas kini Jepang menjadi negara maju di Asia walau miskin sumber daya alam. Majunya Jepang tentulah karena guru (pendidikan) diberikan perhatian yang begitu besar dalam membangun kembali negeri Sakura itu.

Guru memang masih tetap disanjung sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Faktanya, keberhasilan seorang murid kadang kala tidak dianggap sebagai bagian dari jasa para guru. Tapi kegagalan seorang murid adalah bagian dari Guru yang tidak bisa mengajar dengan baik. Walaupun Ada yang mengatakan bahwa umumnya tiap orang besar pernah menjadi guru dan setiap orang besar juga pernah menjadi murid.

Di Indonesia, budayawan Mohammad Sobary pernah menuliskan bahwa dalam ilmu othak-athik gathuk-nya orang Jawa, suku kata gu dari kata guru itu berarti digugu dan ru, artinya ditiru. Barangkali benar, guru memang digugu (dianut) dan ditiru, diteladani para murid. Dari sana, barangkali Ki Hajar Dewantara merumuskan peran guru yang terkenal: ing ngarso asung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani itu. Barangkali dari sana pula pepatah kita “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” itu memperoleh inspirasinya.

Inilah mengapa masa depan anak-anak ataupun generasi muda kita sangat tergantung kepada sosok guru. Seorang guru akan selalu mendidik dan mengayomi muridnya agar menjadi manusia yang berguna kelak kemudian hari. Guru juga akan menjaga muridnya dari mara bahaya yang mengancam masa depan dan keamanan diri seorang murid, terutama yang berkenaan dengan masalah narkoba. Walaupun kadangkala sangat miris ketika kita membaca di media massa bagaimana seorang guru tidak mendapatkan penghormatan semestinya dari para murid ataupun orang tua dari peserta didik itu sendiri.

Penjaga Masa Depan

Penulis sendiri pernah beberapa kali berinteraksi dengan para guru yang mulia ini dimana muridnya pernah mengalami permasalahan narkoba disekolah ataupun di kehidupan sehari-hari. Menurut keterangan para guru ini yang dapat dihimpun penulis, anak didik mereka terperosok penyalahgunaan narkoba karena beberapa sebab. Diantaranya adalah masalah keluarga, pergaulan, lingkungan, ataupun persoalan ekonomi.

Pardiman misalkan, Kepala Sekolah salah satu SLTA di sebuah kabupaten di Pesisir Timur Pulau Sumatera ini memiliki beberapa anak didik yang sering bersentuhan dengan narkoba. Menurut catatan penulis, Pardiman pernah beberapa kali bekerjasama dengan BNN setempat dalam program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) mulai dari sosialisasi hingga rehabilitasi bagi penyalahguna narkoba.

Sayangnya lokasi sekolah yang dipimpin Pardiman termasuk daerah rawan peredaran Narkoba. Sehingga sekuat apapun upaya yang dilakukan olehnya kurang berbuah maksimal. Apalagi ditambah mayoritas murid Pardiman berasal dari keluarga kurang mampu dan mengharuskan mereka bekerja sambil sekolah. Faktor inilah yang kadangkala menyebabkan para murid terjerumus kedalam pelukan narkoba dengan alasan ajakan tetangga serta dorongan diri karena telah memiliki penghasilan sendiri.

Penulis saat itu pernah bertanya kepada Pardiman, kenapa muridnya yang terindikasi pengguna narkoba dan sering membuat masalah di sekolah tidak dikeluarkan ?. “Saya lebih baik memiliki murid yang demikian asalkan ia masih ke sekolah meskipun tidak serajin murid lainnya. Jika saya mengeluarkan mereka, tidak ada yang bisa menjamin bagaimana masa depan mereka diluar sana”. Jawaban Pardiman inilah yang membuat penulis kagum kepada sosok Guru yang senantiasa menjaga dan membimbing muridnya.

Sahil, sejawat Pardiman di Sekolah yang berbeda juga memiliki kisah yang hampir sama. Suatu saat menjelang pelaksanan Ujian Nasional, Sahil yang merupakan kepala SLTP Negeri itu memberikan arahan di hadapan murid-muridnya. Ia berpesan supaya para murid yang akan mengikuti UN untuk belajar giat di rumah dan jangan pernah keluar rumah untuk melakukan hal yang tidak-tidak.

Sayangnya, himbauan Sahil ini tidak sepenuhnya diikuti oleh muridnya. Salah seorang murid SH (15 tahun) malamnya tertangkap tangan oleh aparat penegak hukum karena kedapatan melakukan pesta narkoba di sebuah diskotik bersama sejumlah orang dewasa.  Akhirnya, Sahil berusaha keras agar si murid bisa di bebaskan atau minimal bisa mengikuti UN pada lusanya. Atas perjuangan Sahil ini, si murid diijinkan mengikuti UN oleh Aparat Penegak hukum meskipun hal itu dilakukan didalam  sel tahanan dengan ditunggui oleh staf pengajar lainnya.

Kisah lainnya disampaikan oleh Ucok (nama samaran) seorang Plt Kepala Sekolah yang terletak jauh di pedalaman dan jaraknya sekitar 3 jam perjalanan darat dari ibukota kabupaten setempat. Ia beberapa kali mendapati sekolah yang ia pimpin menjadi sarang peredaran narkoba. Menurut penuturannya, ditengarai salah seorang siswinya menjadi pengedar barang haram itu kepada teman-temannya. Ironisnya narkoba yang diedarkan siswi itu merupakan “bisnis keluarga” yang merupakan kepanjangan tangan dari ayahnya. Padahal pada saat itu Sang Ayah sedang mendekam didalam penjara juga karena kasus narkoba. Ibaratnya, walau harus mendekam di dalam penjara, bisnis keluarga harus tetap berjalan dan bisa dikendalikan dari balik jeruji besi.

Yang lebih menyayat hati lagi, siswi itu memasarkan narkoba dengan cara kredit kepada teman-temannya. Narkoba jenis sabu dalam paket kecil ia berikan kepada temannya yang menjadi pelanggaan pada saat akhir pekan. Selanjutnya seminggu berikutnya mereka membayar dengan cara mengangsur setiap harinya.

Sulitnya medan yang tediri dari perkebunan sawit dan lokasi yang jauh dari pusat kota, membuat aparat penegak hukum dan BNN setempat mengalami kesulitan untuk menelusuri lebih jauh kebenaran cerita Ucok tersebut. Meskipun hasil tes urine yang dilakukan BNN setempat kepada seluruh siswa kelas 12 Sekolah tersebut, terdapat 14 orang terindikasi positif menjadi penyalah guna narkoba. Walaupun banyak siswa yang melarikan diri pada saat tes urin itu akan dilaksanakan. Dari keterangan penyalahguna itu, memang menunjukkan kebenaran akan cerita Ucok.

Sebuah Refleksi

Membaca cerita diatas, sebenarnya kita bisa melihat bagaimana para guru dengan tulus ikhlas mendidik para muridnya melebihi tugas pokok mereka mengajar pelajaran di dalam kelas. Sayangnya perhatian besar yang dilakukan oleh para guru ini kadangkala tidak respon positif orang tua murid. Hasil pendampingan yang dilakukan penulis kepada beberapa orang tua murid yang anaknya kedapatan menjadi penyalahguna narkoba sungguh diluar harapan.

Banyak dari orang tua murid itu tidak mempercayai penuturan maupun bukti otentik yang disampaikan oleh guru sekolah dan dari pihak BNN. Orang tua masih mempercayai anaknya adalah anak yang baik dan tidak berbuat yang aneh-aneh di sekolah. Selebihnya orang tua ada yang acuh tak acuh, yang malah menyalahkan guru kenapa tidak bisa mendidik anaknya denga baik. Bahkan ada orang tua yang mengancam salah satu guru.

Melihat hal ini, masihkah sekarang ini guru memperoleh kehormatan sebagai orang tua yang tetap digugu lan ditiru (didengar petuah dan nasehatnya serta ditiru tindakannya?). Zaman telah berubah. Musim pun berganti dan tahun akan segera berlalu. Dan dalam pergantian itu, kita tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan yang tak lagi sejalan dengan tafsir ideal tentang guru sebagai yang digugu lan ditiru.

Kita dibuat terkejut oleh sejenis pemberontakan moral dan penjungkirbalikan tatanan ideal dalam tafsir Jawa tadi. Dan, kita sepertinya tak siap menghadapi kenyataan ketika guru bukan cuma tak lagi digugu lan ditiru, melainkan juga digebuk oleh sang murid dan orang tuanya.

Kita belum punya jawaban, apa yang mesti kita katakan sekarang ketika kita melihat murid datang kepada guru sambil membawa parang, golok, atau belati untuk mengancam sang guru, ketika gurunya tak bersedia memberinya nilai bagus atau menaikkannya ke kelas tinggi ataupun jika tindakan negatifnya ketahuan oleh para guru seperti kasus diatas.

Upaya Preventif

                  Seharusnya rentetan peristiwa kelabu diatas tidak perlu terjadi jika semua pihak memposisikan seorang guru kepada posisi sebenarnya. Bukan lantas dalam posisi ini seorang guru adalah minta dihormati ataupun gila hormat dari masyarakat, namun lebih dari itu. Peran guru di sekolah menjadi sangat penting untuk mendidik dan mencerdaskan anak bangsa.

Ditangan para guru, pendidikan memegang peranan sangat penting dalam upaya membangun watak bangsa (nation character building) untuk menjaga kelangsungan hidup sebuah negara bangsa (nation state) sebagaimana tertuang dalam tujuan pendidikan nasional.

Sebaliknya, Sekolah menjadi lingkungan kedua setelah keluarga. Hampir sepertiga dari waktu siswa dihabiskan di sekolah, maka sangat efektif apabila sekolah peduli dengan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Program pencegahan penyalahgunaan narkoba di sekolah merupakan salah satu strategi yang sangat penting dan harus dilaksanakan secara komprehensif meliputi berbagai kegiatan belajar mengajar, kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstra kurikuler.

BNN sendiri sebenarnya sudah menyiapkan berbagai macam upaya preventif agar kasus kasus yang dialami oleh Pardiman, Sahil, dan Ucok diatas tidak dialami oleh para guru lain di Indonesia. Salah satunya sejak tahun 2015 kemarin, BNN RI mencanangkan kurikulum pendidikan anti Penyalahgunaan Narkoba.

Dalam hal ini, harus ada upaya pencegahan yang dilakukan dengan mengintegrasikan materi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) ke dalam mata pelajaran berupa pembuatan perangkat pembelajaran (Silabus, RPP, LKS dan Buku Siswa) yang memuat materi P4GN. Selain itu juga pembuatan panduan P4GN untuk guru bimbingan konseling (BK), Organisasi Intra Sekolah (OSIS), dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) serta untuk kegiatan ekstrakurikuler (Ekskul).

Selain dari pada itu, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso (Buwas) juga membuat strategi baru. Buwas mengusulkan sebuah program berupa buku anti penyalahgunaan narkoba yang dapat dimasukkan dalam kurikulum sekolah.  Untuk hal ini, Buwas sudah mengusulkan rencananya itu kepada Menko Polhukam, Wiranto dan Kepala Staf Presiden (KSP), Teten Masduki. Buku anti narkoba itu rencananya dapat diakses mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) tersebut dinilai efektif sebagai bentuk pencegahan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efendy sendiri merespon positif hal tersebut karena sangat penting. Kurikulum Anti Narkoba yang diusulkan kepala BNN akan masuk dalam kurikulum sekolah. Namun nantinya, materi tentang bahaya narkoba itu tidak harus masuk dalam mata pelajaran. Perlu ada kurikulum bukan berati harus menjadi mata pelajaran. Kurikulum bukan berarti pelajaran.

Tentu saja berbagai macam upaya yang telah dan akan dilakukan baik itu oleh BNN, Aparat penegak hukum lainnya, dan Mendikbud tidak akan berbuah secara maksimal jika tidak didukung oleh seluruh stakeholder sekolah dan pemerintahan daerah masing-masing. Terutama para guru itu sendiri yang menjadi ujung tombak program P4GN di sekolah.

Terakhir, penulis ingin mengutip pidato Presiden Jokowi pada peringatan Hari Guru tahun 2016 lalu. “Saya percaya satu orang hebat bisa melahirkan beberapa karya hebat. Tapi satu guru hebat bisa melahirkan ribuan orang hebat. Dirgahayu guru Indonesia, jadilah lentera yang memandu bangsa melangkah ke depan menjadi bangsa pemenang”.

Selamat Hari Guru 25 November 2016.

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Sebagai prasasti terimakasihku untuk pengabdianmu, wahai Guru…

Penulis ;

Oleh Afib Rizal, S.Sos, M.I.Kom

Sumber :

·       http://news.detik.com/berita/d-3331734/mendikbud-sepakat-dengan-buwas-soal-kurikulum-antinarkoba-di-sekolah

·       http://setkab.go.id/sambutan-presiden-joko-widodo-pada-acara-hari-guru-nasional-2016-dan-hari-ulang-tahun-pgri-ke-71-di-sentul-international-convention-center-jawa-barat-27-november-2016/

·       Sobary, Mohammad. (1993), “Kang Sejo Melihat Tuhan”, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

·       http://www.suarakarya.id/2015/10/22/kurikulum-pendidikan-anti-narkoba.html

Bagikan Artikel Ini